Tentang Bonek, Emosi, dan Framing Media

Iosi Pratama

on October 31, 2019


Ini adalah sudut pandang salah satu Bonek yang tidak lebay seperti jurnalis/editor media Indonesia

Selasa, 29 Oktober 2019 adalah hari dimana Persebaya Surabaya, tim kebanggaan Bonek Mania akan bertanding melawan PSS Sleman yang akan bermain di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya.

Ekspektasi seluruh Bonek pada pertandingan ini adalah bangkit dan menang harga mati tanpa ditawar, seri pun adalah sebuah kekalahan menyakitkan karena sebelumnya sudah gagal menang di 5 pertandingan terakhir. Banyak kalahnya.

Begitu banyak kehilangan poin untuk tim yang punya target diawal musim untuk selesai di papan atas.

Babak pertama berjalan, Persebaya bermain diluar ekspektasi / harapan bonek untuk bangkit. Banyak sekali kesalahan passing, kontrol, serta cara bermain yang kita teman-teman bonek sebut di tribun itu pemain bermain loyo.

Emosi leluapan teman-teman bonek itu dimulai ketika babak pertama selesai. Persebaya ketinggalan 1-3 dari PSS Sleman.

Green Nord Mengosongkan Tribun

Green Nord, salah satu tribun bonek yang paling kolektif mendukung persebaya dengan berbagai kreatifitas secara sepakat mengosongkan tribun. Tak lupa, teman-teman di Green Nord memasang Spanduk besar bertuliskan "

SEPURANE, AREK-AREK PENGEN PERSEBAYA MENANG COK!

" Aksi emosional ini diikuti berbagai aktifitas yang mungkin dilakukan Bonek saat itu seperti menyalakan flare and melempar minuman kebawah serta menggulingkan besi tempat dirijen "Capo Ipul" mengomando.

Diam Tak Bernyanyi

Babak kedua dimulai, Teman-teman Bonek semakin banyak yang gerah untuk bernyanyi dan mendukung karena permainan yang masih saja seperti Babak pertama. Kurang greget.

Nyanyian-nyanyian optimisme menang berasa bertepuk sebelah tangan dengan permainan yang ditujukkan di lapangan. Ini membuat banyak dari kami yang memutuskan diam mendukung persebaya, ataupun ikut bernyanyi mendukung BCS Support PSS Sleman.

Kalah. Emosional teman-teman tak terbendung

Prit akhir pertandingan dibunyikan, satu gol penalti Campos tidak merubah apapun kecuali kekalahan. Saat itu juga teman-teman Bonek berani lompat dari tribun yang kira-kira sekitar 4 meter untuk lari kelapangan. Lagi lagi meluapkan emosionalnya. Ada yang menghapiri pemain persebaya lalu memeluknya(Aku yakin disitu mereka nggak cuma diam, pasti ada sepatah dua kata bilang "Bangkito cak") Ada yang menghapiri official tim management. Ada yang membawa spanduk pesan ditunjukkan ke Manajemen.

Semakin banyak pula teman-teman bonek berbondong-bondong meluapkan emosi nya, hingga yang kita dilihat di media-media sekarang "membakar dan merusak fasilitas stadion".

Saya pun yang menulis tulisan ini ada tengah lapangan kemarin itu melihat dan merasakan langsung apa yang teman-teman rasakan. Jadi gini, pertama yang teman-teman bonek bakar itu kebanyakan papan sponsor yang ada disamping lapangan. Itu kan kayu ditambah bahan nya juga. Selain itu ada pula bahas kertas-kertas yang dipakai Bonek untuk buat koreo. Jadi api nya keliatan besar saat di foto.

Kedua fasilitas stadion. Yang dirusak teman-teman Bonek sebagai bentuk kekesalan kemarin adalah jaring gawang, tong sampah yang dibalik, bench pemain yang digulingkan, serta lorong pemain yang didorong hingga morat marit.

Bukan merusak stadion secara keseluruhan yang menggiring opini orang-orang luar. Kalau menurut saya sebagai Bonek, memang iya masih banyak yang belum dewasa secara tindakan kemarin dengan melakukan berbagai tindakan merusak dan membakar.

Namun ini sangat-sangat maklum jika disebabkan emosional yang dirasakan saat itu. Ditambah pengetahuan dan kedewasaan mayoritas bonek sebagai pendukung Persebaya saat itu.

Framing Media Indonesia

Banyak sekali media-media Indonesia yang mengulas aksi bonek selasa kemarin. Kumparan, Bola.com, Kompas dan lain-lain. Kebanyakan mereka mengulas nya dengan dangkal. Nadanya kurang lebih seperti ini. Bonek ricuh membakar stadion dan merusak fasilitas stadion karena persebaya kalah di kandang melawan PSS Sleman 2-3 Emosi.

Memang tidak salah, hanya saja mereka (media) tidak merasakan emosi kami (Bonek) saat itu. Tidak dicantumkan pula motivasi, alasan kenapa sehingga teman-teman Bonek berani melakukan hal tersebut. Jadi artikel nya bisa lengkap dan utuh, bukan sepotong-potong.

Bonek juga manusia normal

Setelah meluapkan emosi nya dengan berbagai tindakan yang kurang baik di lapangan, kemudian teman-teman Bonek banyak yang santai ngobrol-ngobrol dilapangan, selfie buat buat yang baru pertama kali merasakan rumput stadion, serta tiduran.

Dari sudut pandang lain, aksi bonek membawa manfaat tersendiri bagi pedagang di luar stadion karena bonek kelelahan, minuman dan gorengan jadi diserbu.

Karakter Warga Pendukung Surabaya

Ingat, untuk turun dari tribun ke lapangan yang lebih dari 4 meter bonek harus loncat loh. Serta saling tolong menolong satu sama lain agar sama-sama bisa turun. Inilah karakter warga pendukung Surabaya (Bonek) yang asli keluar sendirinya. Berani dan Gotong Royong.

Terlepas kemarin digunakan untuk hal yang kurang baik, seenggaknya karakter pendukung Surabaya ini akan menjadi hal yang luar biasa bila dimanfaat oleh pemimpin yang tahu bagaimana cara memanfaatkannya.

Merusak fasilitas publik yang menggunakan uang rakyat?

Terakhir, di komentar Instagram tentang kejadian ini, sekilas banyak sekali netijen maha benar yang menulis merusak stadion = menyia-nyiakan uang rakyat.

Helloooo. Yaiyalah cuy. GBT itu milik pemkot, dibangun dari uang rakyat. Persebaya menyewa nya ke Pemkot untuk menggunakannya. Bayar. Salah satu pendapatan persebaya untuk bayar yaa dari Bonek yang mendukung secara totalitas. Tiket, Merchandise, dan lain-lain. Kapasitas lapangan persebaya yang mencapai 55.000 Penonton, dengan harga tiket paling murah 50 Ribu (Fans) dan 250 Ribu (Super Fans), sudah pasti mendukung keuangan club. Ya emang rakyat. Bonek. Yang mendukung, yang bayar. Tapi yang perlu diingat, kami teman-teman bonek itu loyalitas nya tingi.

Saat merusak stadion, Bonek tidak berpikir tentang uang rakyat kayak lu netijen modal hp. Bonek pula adalah supporter yang aktif banget kalau masalah menggalang dana sumbangan. Buktikan aja kalau ada Tsunami, Gempa Bumi, Gunung Meletus, atau kejadian buruk lainnya yang menimpa suatu kota. Mereka aktif sosial membantu. Tanpa ada suruh. Jadi kalau mau, Bonek bisa menggalang dana saling membantu untuk renovasi GBT jauh lebih baik lagi asalkan ada yang inisiasi dan persebaya berprestasi.

Kurang lebih seperti tulisan saya kali ini, sama seperti teman-teman bonek kemarin yang melakukan hal-hal secara emosional. Saya pun menulis tulisan ini secara emosional karena banyak media-media yang mengulas secara dangkal seakan-akan bonek itu buruk banget wes, suporter barbar dan menakutkan.

By the way, Persebaya baru saja mengumumkan pelatih Aji Santoso sebagai pelatih baru. Semoga Persebaya lekas bangkit.